Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi Gerindra Andre Rosiade menanggapi berita mengenai permainan bisnis PCR di kalangan pejabat lingkar istana. Sehingga menggelar rapat dengar pendapat dengan beberapa petinggi perusahaan-perusahaan BUMN kesehatan. Andre Rosiade mencurigai beberapa pihak yang melakukan bisnis tipu-tipu pada penerapan tarif tes PCR yang berbeda-beda.
Menurut Andre, penerapan tarif yang berbeda sesuai dengan waktu keluarnya hasil PCR itu tidak signifikan. Maka dari itu dirinya menduga ada pihak yang terlibat dalam bisnis tipu-tipu ongkos PCR.
Lab-lab seharusnya tidak perlu lagi mengeluarkan tarif yang berbeda-beda karena alasan waktu keluar hasil tes PCR. Penerapan postur biaya seperti itu dinilai lucu oleh Politikus Gerindra tersebut.
Intrik bisnis PCR pun dijelaskan Andre, menurutnya, saat ini dalam waktu 1 jam mesin-mesin PCR sudah bisa menangani banyak spesimen. Diketahui terdapat mesin PCR yang bisa digunakan untuk 96 spesimen per 1 jam, ada yang 48 spesimen per 1 jam. Sementara, untuk mesin ekstraksi ada yang 16 spesimen per 20 menit, ada yang 32 spesimen per 20 menit, ada yang 48 spesimen per 20 menit dan yang 96 spesimen per 20 menit.
Andre mengaskan lebih lanjut bahwa sebenarnya waktu hasil keluar tes PCR tidak penting dan tidak signifikan. Hal itu dikarenakan mesinnya bekerja dengan jumlah spesimen. Sehingga ia menduga adanya ditipu-tipu dalam ongkos bisnis ini.
Dalam kesempatan yang sama, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) didesak Anggota Komisi VI DPR RI Nusron Wahid agar segera menyelidiki bisnis PCR. Dasarnya adalah acuan harga, sehingga hal ini ditegaskan Nusron Wahid.
“Atas nama akuntabilitas dan transparansi, kami minta dirut holding menyampaikan harga pokok produksi yang sebenarnya. Apa benar yang disampaikan oleh Uda Andre (Andre Rosiade) tadi bahwa harga PCR bisa di bawah Rp200 ribu? Kalau benar, kenapa bisa mahal? Coba jelaskan versi BUMN Farmasi,” kata Nusron dalam RDPU Komisi VI DPR dengan BUMN Farmasi, Selasa (9/11/2021).
Dugaan yang dikeluarkan oleh Nusron atas harga PCR Indonesia yang tidak wajar dan tidak ekonomis yakni karena adanya bisnis yang tidak sehat. Hal tersebut bisa berupa kartel atau monopoli.
Oleh karena itu, Nusron meminta kepada pimpinan Komisi VI mengagendakan rapat dengan KPPU untuk segera melakukan pemeriksaan dan penyelidikan. Hal itu berkaitan dengan adanya dugaan kartel, monopoli, atau bisnis usaha yang tidak sehat, sebagaimana diatur dalam UU No 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Usaha yang Tidak Sehat dan Monopoli.
Dalam RPDU, BUMN farmasi menjadi incaran Nusron tentang hal persentase BUMN holding yang melayani PCR. Terungkap bahwa holding BUMN farmasi hanya melayani 20-22 persen spesimen dari 48 juta spesimen. Selebihnya dilakukan oleh pihak swasta.
“Jadi yang 80 persen swasta, ya? Artinya dominasi permainan di swasta ya,” cecar Nusron kepada BUMN farmasi.
Nusron pun mempertanyakan biaya tes PCR yang berubah dari sangat mahal menjadi sangat murah itu, dan BPP PCR yang sebenarnya menurut versi BUMN Farmasi ini?
Discussion about this post